31.10.05

Pasca Rumah Sakit

Akhirnya, baru hari ini saya merasa kondisi badan sudah kembali normal. Setelah 2 minggu rasanya kaya mau mati saja. Awalnya terasa demam, badan lemas, kepala berat, hidung mampet dan sakit tenggorokan. Tiap jam 7 malam badan tiba-tiba menggigil kedinginan, padahal setelah diukur suhunya, demam: 38 derajat Celcius! Wah, gawat. Saya pikir, ini pasti bukan flu biasa. Akhirnya pada hari ke-3, saya ke dokter. Kebetulan saat mulai sakit saya sedang menghabiskan weekend di Bandung, jadi saya ke dokter penyakit dalam di Rumah Sakit Advent, Bandung. Dokter menyarankan untuk tes darah saja, takutnya demam berdarah atau typhus. Ternyata benar saja, hasil lab menyatakan kalau kandungan bakteri salmonella dalam darah saya cukup tinggi. Hmm.. gejala typhus. Saya diberi obat-obatan dan surat sakit untuk istirahat selama 4 hari di rumah. Setelah 2 hari, demamnya tak juga turun. Huah, saya mulai gelisah. Akhirnya saya putuskan untuk dirawat di rumah sakit saja.

Malam pertama saya kebagian kamar VIP yang harganya Rp526.000,-/malam. Mahal. Tapi apa daya, kamar kelas 1 penuh semua. Ya sudah, terima saja. Kamar VIP ini, sumpah luas banget! Ada 1 set sofa untuk terima tamu, kulkas, lemari baju, TV, kamar mandi dengan shower dan 1 tempat tidur ekstra untuk keluarga/kerabat yang menemani pasien. Sayang sekali saya tak sempat foto-foto. Iyalah, lagi sakit.. mana kepikiran untuk foto-foto.. Padahal adik sudah mengingatkan untuk memotret makanan rumah sakit, doh.. mana kepikiraaan..!

Di kamar sebesar itu saya tak bisa tidur nyenyak. Saya pasti terbangun dan merasa was-was tiap kali ada perawat yang masuk kamar di tengah malam. Saya tahu mereka pasti hanya ingin mengecek keadaan saya sebagai pasien, sambil mengecek infus, tapi tetep saja rasanya tak tenang! Takutnya bukan perawat yang masuk, entah apa atau siapa yang hendak berbuat iseng. Hii.

Malam kedua akhirnya saya dipindahkan ke kamar kelas 1. Pasien sebelah rupanya gejala typhus juga. Bedanya dia alergi antibiotik, jadi proses pengobatannya lebih memakan waktu plus anaknya manja (-doh!). Malam-malam berikutnya saya bisa tidur lebih nyenyak, mungkin karena merasa lebih aman tidur berdua. Sedihnya selama sakit Sami sama sekali tak datang menjenguk, hiks. Saya sakit di Bandung, Sami kerja di Jakarta. Susah juga mau menjenguk.

Malam terakhir saya sudah copot infus. Rasanya lebih bebas merdeka. Tangan bisa lebih leluasa bergerak, mau ke kamar mandi pun tak perlu repot. Besok siangnya sudah bisa pulang setelah pemeriksaan terakhir dari dokter.

Saya diberi surat sakit untuk istirahat lagi di rumah selama 3 hari. Hari ke-3 saya kembali ke Jakarta dengan kereta api. Rasanya badan belum fit benar, tapi jatah istirahat dari dokter sudah habis, terpaksalah keesokan harinya saya masuk kantor. Benar saja, baru 1 hari kerja, pulang kantor badan rasanya lemas tak berdaya, malamnya saya demam lagi. Oh, sedihnya. Keesokan harinya saya minta ijin tak masuk kantor, istirahat di rumah saja.

Weekend kemarin saya menghabiskan waktu di rumah Sami, sambil mengurus undangan dan souvenier pesta pernikahan kami nanti. Sedikit demi sedikit badan sudah kembali terasa normal, selera makan sudah membaik, makanpun jadi banyak lagi. Kalau kata orang Sunda: mamayu, keadaan setelah sakit yang maunya makan melulu, banyak pula.

Hari ini saya sudah masuk kerja lagi. Berita bagusnya, badan rasanya enak setelah mandi. Biasanya, duh.. greges-greges gimana gitu. Berita buruknya, kantor lagi hektik, deadline edisi akhir tahun. Habis sakit, badan harus langsung siap bekerja keras kembali. Huah!

18.10.05

Boring Elevator

Sebenernya entry kali ini bener-bener ga penting. Saya dapet email fwd ini dari Sena di milis SR 97. Sebenernya yang bisa bikin lucu, mungkin karena saya membayangkan Sena yang melakukan hal-hal ini di lift. Hihihi, ga banget!!

15 tips agar anda tidak 'bete' di dalam lift.

1. Ketika Anda hanya berdua dengan orang tak dikenal, colek bahunya!
Kemudian anda pura-pura melihat ke tempat lain..

2. Tekan tombol lift kemudian Anda pura-pura kesetrum. Tersenyumlah
lalu.. ulangi lagi.

3. Gunakan HP Anda untuk menelpon seorang psikolog sambil bertanya apakah dia tahu Anda sekarang berada di lantai berapa?

4. Bawalah kamera dan ambillah gambar semua orang yang ada di dalam lift.

5. Pindahkan meja kerja Anda ke dalam lift. Jika ada yang masuk, tanyakan apakah mereka sudah membuat janji?

6. Bentangkan papan catur di lantai lift dan ajaklah orang-orang, barangkali ada yang mau main.

7. Letakkan sebuah bungkusan di pojok, jika ada yang masuk, tanyakan apakah mereka mendengar suara "tik.. tik.. tik.."

8. Anda pura-pura jadi pramugari! Tunjukkan prosedur keselamatan penerbangan seperti di dalam pesawat terbang.

9. Ketika pintu menutup, beri pengumuman kepada orang-orang. "Tenang, jangan panik, nanti pasti terbuka lagi kok!"

10. Pasanglah muka menyeringai kesakitan sambil memegangi kepala Anda dan mengumpat: "Diam, semuanya diam!"

11. Bukalah tas Anda, sambil melihat ke dalam tas, bertanyalah: "Udaranya cukup nggak disitu?"

12. Diam dan jangan bergerak sama sekali di pojok lift, menghadap dinding, jangan pernah keluar.

13. Bawalah wayang golek atau wayang kulit, gunakan wayang itu untuk berbicara dengan orang berada di dekat Anda.

14. Dengarkan suara di dinding lift dengan stetoskop.

15. Buatlah garis di lantai sekeliling Anda menggunakan kapur, lalu
bilang: Ini adalah wilayah SAYA.

10.10.05

UK Specialities

And these are what i've got from the FoodSwap pool. I got these marvellous things from dopiaza. I've opened one of the choclate bars and the smoked almonds & cashews. Good they are! But I don't eat too many nuts, anykind of nuts, nowadays. So Sami and his parents finished eating them.

It's kinda fun and exciting doing food trading like this. But I need to spare some extra money for sending food outside Indonesia. Maybe we could do it not too often, maybe three times a year or so. Thanks to Asti for the lovely idea!